VIVAnews - Pernyataan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terkait aksi demo peringatan Hari Antikorupsi sedunia menuai kontroversi. Apalagi, dugaan SBY mengenai adanya upaya mengoyang pemerintah, tidak terbukti.
"Kepercayaan masyarakat kepada Presiden SBY kembali tercoreng," kata pengamat politik Maswadi Rauf dalam perbincangan dengan VIVAnews, Kamis 10 Desember 2009.
Aksi demo peringatan Hari Antikorupsi, kemarin berjalan damai di sejumlah titik Jakarta. Massa terpusat di beberapa titik, yakni kantor DPR, Bank Indonesia, Istana Presiden, Istana Wakil Presiden, dan Bundaran Hotel Indonesia.
Maswadi menduga dua kemungkinan mengapa SBY menerima informasi yang salah. "Pertama, informasinya memang salah dan kedua, informasi itu memiliki tujuan lain, yakni menempatkan presiden dalam posisi terancam," jelasnya.
Apapun cerita dibelakang informasi itu, Maswadi menilai pernyataan SBY itu tidak efektif dalam membangun komunikasi politik dengan rakyat. "Komunikasi politik SBY harus diubah. Tidak bisa terus seperti ini."
Saat ini, kata dia, SBY harus mengembalikan kepercayaan publik dengan sikap, bukan kata-kata. "Pernyataan itu merugikan dan merusak citra Presiden di mata publik," kata dia.
Aksi 9 Desember 2009 bertajuk 'Gerakan Indonesia Bersih' dimotori beberapa tokoh di antaranya Din Syamsudin, Hasyim Muzadi, Pdt Andreas Yewangoe, Effendi Gazali, Ray Rangkuti, Rizal Ramli dan sejumlah tokoh lainnya. Selain itu lebih dari 20 Ormas dan LMS bergabung dalam aksi ini.
Aksi itu dicurigai Presiden SBY karena diduga ada tokoh yang tidak lama muncul selama lima tahun, tiba-tiba berdemo tentang antikorupsi. SBY juga menilai ada gerakan politis di balik aksi antikorupsi ini.