Politik
Buku Gurita Cikeas

Mengapa SBY Sebaiknya Tak Respons Buku George

Ada dua sudut pandang yang membuat SBY sebaiknya tak usah berkomentar atas buku itu.

Selasa, 29 Desember 2009, 01:31 WIB
Arfi Bambani Amri, Heri Susanto
Buku Gurita Cikeas (Vivanews/ Amatul Rayyani)

VIVAnews - Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi berpendapat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebaiknya tak merespons buku "Membongkar Gurita Cikeas" karya George Junus Aditjondro. Apapun respons SBY, akan menimbulkan sinisme publik.

"SBY sekali lagi memakai gaya komunikasi melankolis untuk menarik simpati publik," ujar Burhan. "Dia ingin mengatakan bahwa saat ini sedang dikeroyok dari delapan penjuru mata angin. Mulai dari Pansus yang mulai melihat keterlibatan dirinya, LSM Bendera hingga kalangan intelektual seperti George," ujar peneliti senior Lembaga Survei Indonesia itu secara tertulis ke VIVAnews, Senin 28 Desember 2009.

Sebenarnya strategi melankolis ini, ujar Burhan, bisa menimbulkan sinisme publik karena tidak menjawab substansi persoalan dan cenderung mengalihkan perhatian apalagi jika dilakukan terlalu sering. Sementara, "Pidato SBY itu seolah menanggapi George, apalagi dengan pernyataan juru bicara yang terlalu reaktif terhadap buku," ujar lulusan Australian National University itu.

Kata Burhan, tidak seharusnya SBY menanggapi semua persoalan karena masih banyak urusan lain yang lebih urgen. Tanggapan SBY terhadap buku George itu malah jadi iklan gratis. "Awalnya orang tidak peduli, tapi respons istana dan sejumlah elit Demokrat malah membuat publik menjadi penasaran," ujarnya.

SBY tak perlu reaksioner karena secara metodologis, buku George sangat lemah, tidak didukung akuraasi data bahkan cenderung bagian dari propaganda politik ketimbang karya akademik. Tanggapan yang tidak proporsional dan memakai alat kekuasaan seperti pelarangan dan penarik buku membikin buku itu makin diburu.

Sementara kriminolog dari Universitas Indonesia, Adrianus Meliala, bersikap senada namun dengan pendekatan berbeda. Adrianus menyatakan, SBY jangan menyikapi buku George dengan pendekatan kekuasaan atau pun pendekatan hukum yang seolah-olah adil padahal teknokratis. "Itu hanya akan mengundang polemik dan kontroversi serta akan memundurkan kualitas demokrasi," ujar Adrianus.

Pihak-pihak yang merasa terpojok dengan isi buku tersebut seyogyanya menghadapinya dengan tataran yang sama yakni tataran intelektual. "Terbitkanlah buku-buku lain yang bersifat counter atau memakai angle berbeda dan biarkanlah masyarakat menilai mana yang benar atau bohong," ujarnya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Yunita Antow
29/12/2009
setuju dgn Mimi, dewasalah sedikit,tunggulah dgn sabar giliran kalian untuk korupsi,waktunya sby skrg,semua akan kebagian kok asal sabar sampe 2014,itupun kalo terpilih,kalo gak,ya sabar lagi sampe kiamat...
Balas   • Laporkan
Masyarakat kita tu masyarakat infotainment, jadi sukanya yang melow-melow gituuuu!!!!
Balas   • Laporkan
MIMI HERMAN
29/12/2009
usahakan bewrpolitik sesehat mungkin dan sedewasa mungkin agar dunia lebih menghargai indonesia.......
Balas   • Laporkan
s
29/12/2009
Karena SBY dan kroni2nya memang benar melakukan hal tersebut
Balas   • Laporkan
edward sinaga
29/12/2009
sangat setuju dengan apa yang dianjurkan artikel tersebut
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ