VIVAnews - Indonesia pernah berada di ambang krisis konstitusi ketika Abdurrahman Wahid dipecat Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai Presiden dan mengangkat Megawati Soekarnoputri sebagai penggantinya. Di ambang krisis, karena Gus Dur hampir saja tak mau meninggalkan Istana alias tak mau melepas jabatannya.
Dalam buku "Jurus dan Manuver Taufiq Kiemas: Memang Lidah Tak Bertulang", Derek Manangka menulis Taufiq Kiemas sadar keadaan ini tak boleh dibiarkan berlarut-larut karena bisa menimbulkan krisis konstitusi. Taufiq harus melakukan tindakan negarawan, melakukan terobosan.
"TK minta bantuan Letjen Luhut Panjaitan, Menteri Perindustrian dan Perdagangan era Gus Dur. Diantar Jenderal Kopassus dan mantan Dubes RI di Singapura itu, TK dalam kapasitas sebagai "orang biasa" menemui Gus Dur di salah satu kamar istana," ujar Derek.
TK dipersilakan Gus Dur namun belum diajak bicara. Gus Dur masih terus mengomel dan marah-marah. TK sadar, salah satu yang diomeli adalah dia, yang juga terlibat dalam serangkaian pertemuan dengan tokoh-tokoh yang melengserkan Gus Dur dari kursi kepresidenan.
Akhirnya TK membuka kata kepada Gus Dur. "Gus, masa kiai kok marah-marah," ujar TK menyapa Gus Dur. Gus Dur lalu terdiam. Gus Dur lalu mulai berdialog dengan TK.
TK menerima semua tudingan Gus Dur dan kekesalannya kepada Mega. Namun TK lalu mengeluarkan pendapatnya, Mega tidaklah merampas jabatan Presiden.
"Gus Dur yang menjadikan Mega sebagai Wakil Presiden. Pengertian saya, dengan Gus Dur menjadikan Mega sebagai wakil presiden, berarti Gus Dur juga mempersiapkan Mega menjadi Presiden," kata Taufiq. "Logikanya, Gus Dur tidak keberatan kalau Gus digantikan oleh Wakil."
Suasana tegang di antara mereka berdua akhirnya cair. Gus Dur lalu memahami Megawati yang berkuasa di Indonesia saat ini. Dan Gus Dur pun akhirnya meninggalkan istana dengan damai dan terhormat.