VIVAnews - Wakil Presiden Boediono mengatakan sebagai sebuah organisasi kepemudaan, Gerakan Pemuda Ansor telah melewati sejarah panjang selama 76 tahun berdiri, sejak 1934. GP Ansor pun dianggap telah melewati ujian sejarah, sehingga Indonesia tetap tegak berdiri sebagai sebuah bangsa.
Namun Boediono berharap dengan sejarah panjangnya, GP Ansor dapat terus menjadi organisasi kepemudaan berwatak keagamaan dan kebangsaan. "Janganlah GP Ansor terlena oleh kemegahan sejarahnya yang cukup mengesankan," kata Boediono usai Pembukaan Muktamar GP Ansor Ke-16 di Istana Wakil Presiden, 25 Januari 2010.
Boediono juga berharap GP Ansor siap menghadapi modernisasi. "Yang masuk ke sendi seluruh bangsa, terutama dengan berkembangnya teknologi informasi," ujarnya. Dengan demikian, GP Ansor juga tidak bisa mengatakan bagian dari lingkup tertutup dari proses globalisasi.
Karena itulah Boediono meminta GP Ansor tidak bersikap kolot, agar tidak kehilangan daya tarik di antara generasi muda sekarang. "Jika sebuah organisasi kepemudaan bersikap keras, kolot, dan ortodoks, maka dia mudah kehilangan daya tarik diantara generasi muda sekarang, akan kehilangan jati diri," jelas Boediono. Hal itu, sambungnya, merupakan kunci bagaimana mencari keseimbangan yang pas bertahan di arus globalisasi tanpa meninggalkan jati diri.
Walau demikian, Boediono mengingatkan kebebasan dan demokrasi, hendaknya tetap bertujuan untuk mencapai kesejahteraan rakyat. Jangan sampai masyarakat terlalu menjadikan demokrasi sebagai sebuah slogan, namun kesejahteraan rakyat terabaikan.
"Kesejahteraan rakyat, itulah yang sebenarnya jadi tujuan sejati. Jangan sampai kehabisan energi bermain demokrasi, sementara perbaikan kesejahteraan rakyat terabaikan," ucap Boediono.