VIVAnews - Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja SBY-Boediono menurun. Bahkan hanya 51 persen masyarakat yang puas akan kinerja Wakil Presiden Boediono.
Yopie Hidayat selaku juru bicara Istana Wakil Presiden menyatakan, penilaian masyarakat itu masih normal. Apalagi dilakukan di awal pemerintahan. "Penurunan adalah hal yang wajar pada awal pemerintahan. Obama saja turun tajam," kata Yopie di Istana Wapres, Jakarta, Rabu 27 Januari 2010.
Menurut Yopie, hasil survei itu akan dijadikan sebagai pengingat bagi Wapres Boediono untuk bekerja lebih keras lagi. "Ini kami anggap cerminan untuk perbaikan kinerja," ujarnya.
Yopie menduga, penurunan itu diakibatkan karena harapan yang besar dari masyarakat terhadap Boediono. "Kalau namanya kepuasan kan berkaitan dengan ekspektasi dan wujudnya banyak, ada yang terpenuhi dan ada yang tidak. masyarakat ingin ekspektasi tinggi dari pemimpinnya," jelasnya.
Saat disinggung apakah penurunan ini diakibatkan kasus Century yang diduga melibatkan Boediono, Yopie enggan berkomentar. "Yang memberi penilaian kan masyarakat melalui survei," ujarnya.
Responden yang ditanya kepuasan terhadap kinerja SBY-Boediono dalam 100 hari pertama pemerintahannya, yang mengatakan puas dengan SBY 70 persen dan yang puas dengan Boediono 51 persen.
Tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja SBY-Boediono yang menurun ini, menurut LSI, dipengaruhi oleh kasus Bibit dan Chandra serta kasus Bank Century.
Kepuasasan terhadap SBY, responden yang mengikuti berita kasus Bibit dan Chandra adalah 74 persen, sedangkan yang tidak mengikuti beritas kasus tersebut adalah 65 persen.
Sedangkan kepuasaan terhadap Boediono, responden yang mengikuti berita kasus Bibit dan Chandra adalah 59 persen, sedangkan yang tidak mengikuti beritas kasus tersebut adalah 41 persen. Selisihnya 18 persen.
Adapun selisih untuk korelasi kepuasan terhadap pemerintah dengan kasus Bank Century, antara yang mengikuti berita kasus ini dengan yang tidak, adalah 10 persen untuk SBY, dan 17 persen untuk Boediono.
Jika dilihat dari sebaran tingkat pendidikan responden, ternyata kalangan terpelajar cenderung menilai lebih rendah atas kinerja pemerintah, dibanding pada kalangan kurang terpelajar.
"Meski jumlah kelas terpelajar (kuliah/sarjana) lebih sedikit dibanding yang berpendidikan menengah (SMA/ SMP), namun ini ibarat piramida terbalik. Yang terpelajar bisa menularkan penilaian negatifnya ini kepada yang menengah," kata Peneliti LSI Burhanudin Muhtadi dalam kesempatan yang sama mengomentari survei tersebut.
Populasi survei ini adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilihan umum, yakni mereka yang sudah berumur 17 tahun atau lebih, atau sudah menikah ketika survei dilakukan. Jumlah responden 2900 orang, tersebar di 33 provinsi seluruh Indonesia, proporsional dengan profil penduduk menurut BPS, dipilih dengan tehnik multistage random sampling. Margin of error sebesar +/-2% pada tingkat kepercayaan 95 persen. Survei dilakukan dengan wawancara langsung antara 7-20 Januari 2010.