Please install the Flash Plugin
VIVAnews -- DI depan pintu rumahnya Ratih Sanggarwati tengkurap. Tubuh mantan peragawati top Indonesia setinggi 172 meter itu melintang menghalang siapapun yang masuk atau keluar rumah di Jalan Panglima Sudirman 16, Ngawi, Jawa Timur itu. Lalu sang ibu, Nur Aini, melangkahi putrinya itu dua kali. Ritual Ratih tak ada kaitannya dengan adat istiadat di Ngawi. Juga tak ada hubungannya dengan agama yang dianutnya. Ratih bilang, ritual itu hanya berlaku dalam keluarganya saja. “Sejak remaja sudah saya lakukan ritual seperti ini,” kata perempuan kelahiran Ngawi, 8 Desember 1962, itu kepada kepada Surabaya Post. Pertama dilakukannya pada 1980. "Ketika ikut kompetisi putri remaja," ujarnya. Hasilnya, dia menjadi salah seorang dari 20 finalis, bahkan terpilih sebagai Puteri Photogenic Lux 1980. Ritual sama juga dilakukannya saat ikut ajang pemilihan Abang dan None Jakarta 1983. Sejak itu langkah hidupnya mulus. Dia menjadi peragawati top, model, dan pemain sinetron. Pada 1997, ibu tiga anak ini menghentikan debutnya di dunia model. Lalu beralih ke bisnis, mendirikan Ekpose, sebuah sekolah model dan kursus pengembangan kepribadian diri dan butik “Sang Sakinah.”
Begitulah cara Ratih memohon restu ibunya ketika hendak terjun ke medan laga. “Ini ritual langkahan,” kata Ratih. Kali ini dia hendak bertarung dalam pemilihan kepala daerah Ngawi. Usai ritual pada Rabu pagi 17 Februari 2010 itu, Ratih mendaftar sebagai calon bupati ke Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ngawi.
Dia menjadi None Jakarta di tahun itu juga.