VIVAnews - Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok menyampaikan satu keinginan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden dan pembina partai yang selama ini tak pernah disampaikan ke publik.
Komitmen SBY menjadi Presiden, kata Mubarok, tidak lain dan tak bukan adalah dia ingin berakhir dengan 'khusnul khotimah'.
"Ini kan masa pemimpinan beliau terakhir, setelah ini tidak bisa kepilih lagi. Jadi SBY ingin agar bisa selesai mengemban amanat rakyat sampai akhir," kata Mubarok usai diskusi di Warung Daun, Sabtu 6 Maret 2010.
Meski demikian, SBY menyadari bahwa dalam ada banyak 'pemain' di sana ini. Menurut Mubarok pemain ini mulai dari politikus, pengusaha dan berbagai kalangan lain.
"Manusia itu senang bekerjasama kalau ada kepentingan pribadi, tapi ada yang fair dan tidak. Dalam politik juga begitu, ada kolusi dan ada intevensi," katanya.
Kata Mubarok ada juga politik yang ditemukan berkolusi dengan pengusaha untuk menghadirkan produk. Ia mencontohkan ketika gedung DPR beberapa waktu lalu di demo anti judi.
"Siapa yang tahu demo anti judi itu dibiayai Singapura, mereka mengirimi orang supaya judinya tidak ke Indonesia, biar di Singapura saja, ini kepentingan," kata dia. Hal yang sama kata Mubarok juga terjadi pada koruptor dan politisi yang sengaja ingin menutupi dirinya.
Demokrat, kata Mubarok, sangat memahami kalau koalisi berantakan karena Demokrat adalah partai baru yang berhadapan dengan pemain luar biasa.
Munculnya kasus Century ini menjadi pelajaran bagi Demokrat dimana pengalaman partai lama pasti lebih banyak dibanding Demokrat.
"Tapi tidak apa-apa, kami selalu menunggu-nunggu, nanti pasti akan ada (waktu) buat Demokrat akan lebih jaya," kata dia. Mubarok pun tidak menampik tudingan, kalau Demokrat itu berpolitik dengan lugu.
"SBY selalu mengatakan tidak ada jalan rata di politik. Jadi kami siap betul menghadapi seperti ini," katanya.
Menurut Mubarok SBY dengan pelajaran kasus Century melakukan perenungan sendiri dan melihat ke belakang. SBY yakin bahwa dibalik ujung kejadian itu semua pasti akan baik.
Cerita Mubarok mengulas kembali bagaimana Demokrat diperlakukan saat penerapan UU Pilpres 20 persen pada Pilpres tahun kemarin. "Itu hikmah buat kami, Tuhan menolong dari atas," ujar Mubarok.
Cerita UU Pilpres pada tahun lalu bagaimana saat akan menentukan persyaratan mencalonkan partai, Demokrat dihalang-halangi dengan menaikkan target di atas 35 persen.
"Golkar waktu itu koalisi kita. JK (Jusuf Kalla) ketuanya. Kami naikan prosentasenya jadi 15 persen. Itu tujuannya supaya Demokrat dengan 15 persen bisa mengusung SBY sendiri, tapi PDIP dan Golkar, menaikkan prosentase itu jadi 35 persen," kata dia.
"Pagi-pagi saat itu, saya ketemu JK dan menyatakan bahwa angka itu ekstrim, karena di atas 20 persen. Kami hanya bisa berkata, ini 'tikungan' supaya SBY tak bisa diusung sendiri," katanya.