Politik

SBY Ingin Berakhir 'Khusnul Khotimah'

"Ini kan masa pemimpinan beliau terakhir, setelah ini tidak bisa kepilih lagi."

Sabtu, 6 Maret 2010, 16:04 WIB
Ita Lismawati F. Malau, Agus Dwi Darmawan
Presiden SBY dan JK (ANTARA/Ali Anwar)

VIVAnews - Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Ahmad Mubarok menyampaikan satu keinginan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Presiden dan pembina partai yang selama ini tak pernah disampaikan ke publik.

Komitmen SBY menjadi Presiden, kata Mubarok, tidak lain dan tak bukan adalah dia ingin berakhir dengan 'khusnul khotimah'.

"Ini kan masa pemimpinan beliau terakhir, setelah ini tidak bisa kepilih lagi. Jadi SBY ingin agar bisa selesai mengemban amanat rakyat sampai akhir," kata Mubarok usai diskusi di Warung Daun, Sabtu 6 Maret 2010.

Meski demikian, SBY menyadari bahwa dalam ada banyak 'pemain' di sana ini. Menurut Mubarok pemain ini mulai dari politikus, pengusaha dan berbagai kalangan lain.

"Manusia itu senang bekerjasama kalau ada kepentingan pribadi, tapi ada yang fair dan tidak. Dalam politik juga begitu, ada kolusi dan ada intevensi," katanya.

Kata Mubarok ada juga politik yang ditemukan berkolusi dengan pengusaha untuk menghadirkan produk. Ia mencontohkan ketika gedung DPR beberapa waktu lalu di demo anti judi.

"Siapa yang tahu demo anti judi itu dibiayai Singapura, mereka mengirimi orang supaya judinya tidak ke Indonesia, biar di Singapura saja, ini kepentingan," kata dia. Hal yang sama kata Mubarok juga terjadi pada koruptor dan politisi yang sengaja ingin menutupi dirinya.

Demokrat, kata Mubarok, sangat memahami kalau koalisi berantakan karena Demokrat adalah partai baru yang berhadapan dengan pemain luar biasa.

Munculnya kasus Century ini menjadi pelajaran bagi Demokrat dimana pengalaman partai lama pasti lebih banyak dibanding Demokrat.

"Tapi tidak apa-apa, kami selalu menunggu-nunggu, nanti pasti akan ada (waktu) buat Demokrat akan lebih jaya," kata dia. Mubarok pun tidak menampik tudingan, kalau Demokrat itu berpolitik dengan lugu.

"SBY selalu mengatakan tidak ada jalan rata di politik. Jadi kami siap betul menghadapi seperti ini," katanya.

Menurut Mubarok SBY dengan pelajaran kasus Century melakukan perenungan sendiri dan melihat ke belakang. SBY yakin bahwa dibalik ujung kejadian itu semua pasti akan baik.

Cerita Mubarok mengulas kembali bagaimana Demokrat diperlakukan saat penerapan UU Pilpres 20 persen pada Pilpres tahun kemarin. "Itu hikmah buat kami, Tuhan menolong dari atas," ujar Mubarok.

Cerita UU Pilpres pada tahun lalu bagaimana saat akan menentukan persyaratan mencalonkan partai, Demokrat dihalang-halangi dengan menaikkan target di atas 35 persen.

"Golkar waktu itu koalisi kita. JK (Jusuf Kalla) ketuanya. Kami naikan prosentasenya jadi 15 persen. Itu tujuannya supaya Demokrat dengan 15 persen bisa mengusung SBY sendiri, tapi PDIP dan Golkar, menaikkan prosentase itu jadi 35 persen," kata dia.

"Pagi-pagi saat itu, saya ketemu JK dan menyatakan bahwa angka itu ekstrim, karena di atas 20 persen. Kami hanya bisa berkata, ini 'tikungan' supaya SBY tak bisa diusung sendiri," katanya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
rendra
09/03/2010
pak eko : itu cuma contoh boss, pake otak untuk analisis donk!!
Balas   • Laporkan
ww
07/03/2010
Bagaimanapun saya tetap percaya pada Pak SBY utk mengemban amanat Rakyat. Lanjutkan..!!
Balas   • Laporkan
andes
07/03/2010
SBY sosok yang mumpuni,
Balas   • Laporkan
aandika
07/03/2010
partainya emang baru pak...pemainnya JADUL.
Balas   • Laporkan
awi
06/03/2010
Kata orang politik itu seperti dua sisi mata uang yang saling berkaitan, jika yg satu sisi rusak maka ia tdk berguna lagi. Seperti eksekutif dan legislatif yang sedang dilanda masalah century. Lebih baik masing2 intropeksi lagi, masih banyak kepentingan r
Balas   • Laporkan
awi
06/03/2010
semoga semuanya tenang dulu, masih banyak masalah rakyat yg penting lagi. intropeksi pada diri masing2 itulah yg terpenting. kalah/menang, salah/betul hanya TUHAN YANG MAHA ADIL DAN MAHA TAU. semoga presiden dan dpr menjalankan tugasnya sampai selesai de
Balas   • Laporkan
linda
06/03/2010
Saya cinta dan bangga akan SBY Presiden RI. Hidup SBY!
Balas   • Laporkan
bayu
06/03/2010
y hukum karma berlaku SBY jg dulu gitu lg jaman Gusdur dan Mega. Jd menteri Plin Plan pas mo PILPRES malah undur diri bukan nya urus kabinet dulu.
Balas   • Laporkan
dedi wajidi
06/03/2010
dimata saya belum ada dan punya rasa bangga dihati selain PRESIDEN SOEHARTO (almarhum).dia berkepentingan untuk negara dan bangsa bukan untuk Politik, dan golongan .
Balas   • Laporkan
djoko
06/03/2010
Semula saya pribadi tidak benci sama SBY, saya segelintir manusia dari ratusan juta rakyat Ind yang memilih SBY jd Presiden RI saat Pemilu. Tp saya terpaksa skrg tdk suka sama beliau dikarenakan para pembisik2 diseputar SBY yg membuat SBY terpuruk spt saa
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ