Politik
Bintang Pansus

Mahfudz Siddiq dan 80% Salah Boediono

Inilah si tenang menghanyutkan dari PKS.

Selasa, 9 Maret 2010, 06:23 WIB
Arfi Bambani Amri
Politisi PKS Mahfudz Siddiq (VIVAnews/ Tri Saputro)

VIVAnews - Di antara 30 anggota Panitia Khusus Angket Kasus Bank Century, Mahfudz Siddiq muncul menjadi salah satu acuan sumber. Posisinya sebagai Wakil Ketua Pansus membuat ucapannya layak kutip.

Politisi kelahiran Jakarta, 25 September 1966, ini tergolong jarang bicara. Namun sekali politisi Partai Keadilan Sejahtera yang terpilih jadi anggota DPR dari daerah pemilihan Jawa Barat VIII yang meliputi Cirebon ini mengeluarkan kata, banyak orang tersentak.

Pada 9 Februari lalu misalnya, di tengah ketidakpastian sikap PKS, Mahfudz melansir pernyataan menghebohkan: 80 persen kesalahan kasus Bank Century di tangan mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono. "Dan 20 persen di Sri Mulyani," ujar suami dari Triyekti Kusumaningsih itu. "Oleh karena itu tidak ada alasan kuat bagi Panitia Angket memanggil presiden sebagai saksi," katanya.

Pernyataan Mahfudz itu terbukti kemudian hari menjadi kebijakan resmi PKS. Bagi PKS, penanganan Bank Century sejak pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek sampai dengan penetapan sebagai bank gagal dan ditengarai berdampak sistemik adalah sepenuhnya keputusan Bank Indonesia yang saat itu dipimpin Boediono.

Jauh hari sebelumnya, pada 19 Januari, Ketua Fraksi PKS, Mustafa Kamal, menyatakan kinerja Mahfudz yang lulusan Universitas Nasional itu memang bagus. "Sampai saat ini, kami lihat performa anggota pansus dari PKS cukup baik," kata Mustafa Kamal. "Tidak ada masalah. Tidak akan ada pergantian."

Konsistensi Mahfudz juga terbukti saat digelar rapat paripurna DPR menentukan sikap soal Bank Century. Mahfudz secara tegas menolak Opsi "jadi-jadian" AC. Secara format, kata dia, yang disampaikan empat fraksi yakni Partai Demokrat, PKB, PPP, dan PAN, tidak memenuhi syarat karena tidak jelas antara kesimpulan dan rekomendasi. Munculnya dua opsi yang direkomendasikan pansus, yakni A dan C karena ada dua substansi yang tidak bisa dipertemukan.

"Ini bukan persoalan jeruk dan apel, tapi dua hal yang berbeda dan berlawanan. Jadi dirumuskan mana yang berbeda dan berlawanan. Di sini (AC) tidak mencerminkan kesimpulan dan rekomendasi. Tidak memenuhi syarat untuk menerima opsi AC," kata Mahfudz. Karena itu Mahfudz meminta pembahasan rapat paripurna kembali membahas antara A atau C saja.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
abdul hamid.
20/03/2010
sudah saatnya masyarakat harus melihat bahwa potensi anggota DPR kita yang muda, jika diberikan ruang dan kesempatan,maka akan lahir generasi muda yang mampu melakukan sebuah perubahan, inovasi, dan kreativitas berfikir...berilah kesempatan yang muda untu
Balas   • Laporkan
lisa sri arisia
20/03/2010
semoga tetap konsisten perjuangkan kebenaran, semoga mampu menjadi teladan bagi anggota dewan yang lain, dan mampu mengungkap kebernaran dan menindak yang bersalah, jaya pak mahfudz, jaya PKs
Balas   • Laporkan
sukro
19/03/2010
GW bangga dengan bang mahfud. moga tambah lurus aja jalannya. buat tukang korupsi mending diem aja. ga usah panjang lebar nentuin siapa yang lebih tau tentang ekonomi. orang kecil juga tahu ga harus bankir. kasihan si mbah yang tua yang harus meratapi nas
Balas   • Laporkan
Arif
18/03/2010
Wahai MS yang baik, jangan dengarkan orang-orang yang suka mencela. Tetap istiqomah, sungguh kebenaran tidak bisa digabungkan dengan kemungkaran.
Balas   • Laporkan
Arif
18/03/2010
Wahai MS yang baik, jangan dengarkan orang-orang yang suka mencela. Tetap istiqomah, sungguh kebenaran tidak bisa digabungkan dengan kemungkaran.
Balas   • Laporkan
Pasinringi
16/03/2010
Alhamdullah Ustadz tetep Istiqomah saya tidak salah pilih
Balas   • Laporkan
RESMI
14/03/2010
semoga Allah menuntun, memberikan petunjuk dan kekuatan kepada para politisi yang lurus dan bersih untuk mnyelesaikan segala problema di negeri ini, ALLAAHU GHAYYATUNAA
Balas   • Laporkan
lutfi
13/03/2010
Semoga tetap istiqomah dalam menegakkan keadilan
Balas   • Laporkan
ama
11/03/2010
mao gantiin RI 2 ya bang...??? hehe.. :D
Balas   • Laporkan
bayu
11/03/2010
Sorry, dulu saya juga milih PKS, namun setelah ini saya nggak mau milih lagi..saya juga bukan antek pemerintah krn dari dulu saya anti-pemerintah, namun skrg semua jadi Provokator yang hanya ngomong doank prestasi Nol..dan byk rekan para profesional tersi
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ