Politik

Tifatul: Masak Isi Berita Cuma Debat Ruhut

Tifatul pun mempersilahkan untuk memberitakan hal yang negatif.

Kamis, 18 Maret 2010, 16:42 WIB
Ismoko Widjaya, Anggi Kusumadewi
  (VIVAnews/ Gestina Rachmawati)

VIVAnews - Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menekankan kembali dirinya selalu mendukung kebebasan pers. kesalahpahaman yang sempat timbul dengan pers, telah berhasil diselesaikan secara damai.

"Saya hanya ingin pemberitaan disampaikan secara seimbang dan selalu dikonfirmasi lebih dulu ke pihak terkait," kata Tifatul Sembiring di Gedung Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis 18 Maret 2010.

Tifatul pun mempersilahkan untuk memberitakan hal yang negatif. "Tapi beritakan juga hal yang positif," pesan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini.

Dengan demikian ia berharap, wajah Indonesia di pemberitaan tidak selalu suram. "Masak isi berita cuma debat Ruhut dan demonstrasi?" kata Tifatul setengah berkelakar.

Penampilan Ruhut yang baru
Ruhut yang dimaksud Tifatul adalah Ruhut Sitompul, anggota Fraksi Demokrat DPR RI yang seringkali mengeluarkan pernyataan kontroversial dan jahil dalam rapat-rapat DPR. Sehingga tak jarang memicu keributan dalam rapat DPR.

Tifatul rupanya cukup memperhatikan tingkah polah Ruhut yang kerap mendominasi pemberitaan, termasuk debat panas antara Ruhut dan Gayus Lumbun, politisi PDIP, pada rapat pansus Century beberapa waktu lalu.

Oleh karena itu, Tifatul cukup heran melihat betapa pemberitaan terkadang menjadi hanya didominasi oleh hal yang sensasional, dengan mengesampingkan berita lain yang bernuansa positif namun ia anggap tak kalah pentingnya.

Dia juga mengkritik banyaknya berita demonstrasi dari tiga kota besar di tanah air – Jakarta, Bandung, dan Makassar. "Indonesia itu bukan hanya Jakarta, Bandung, dan Makassar. Kalau di Makassar sih, apapun memang didemo," kata Tifatul lagi-lagi melontarkan gurauan.
Tifatul mengingatkan, masih banyak hal-hal positif yang terjadi di tanah air, yang juga pantas untuk diberitakan sebagai informasi penting bagi khalayak.

"Ada anak-anak yang memenangkan olimpiade sains internasional, misalnya," tutur dia. Dengan demikian, ia berharap pemberitaan ke depannya bisa lebih seimbang dan tidak memihak.

Sebagai Menkominfo, Tifatul menekankan bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki pretensi untuk mengganggu kebebasan pers yang selama ini telah berjalan baik.


ismoko.widjaya@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Ferryansah
03/06/2010
kalo begitu nonton TVRI aja.. dijamin ga bakalan puyeng deh ma berita2 penuh sensasi yg menjijikkan dan ga mutu karena ga bikin rakyat makin pinter... TVRI kan TV pemerintah, jadi berita2 kedaerahan yg mengabarkan proyek2 or kegiatan2 bernilai positif yg
Balas   • Laporkan
Ferryansah
03/06/2010
kalo begitu nonton TVRI aja.. dijamin ga bakalan puyeng deh ma berita2 penuh sensasi yg menjijikkan dan ga mutu karena ga bikin rakyat makin pinter... TVRI kan TV pemerintah, jadi berita2 kedaerahan yg mengabarkan proyek2 or kegiatan2 bernilai positif yg
Balas   • Laporkan
Lina P.
22/03/2010
Saya anggap itu hanya guyon yg penting jaga emosi jgn terbawa arus kemarahan.yg diinginkan berita pendidikan dan keberhasilan dlm kegiatan anak2 kita apa itu dibdg olah raga,kesenian,penemuan2 dll.
Balas   • Laporkan
joe
20/03/2010
yup......sya stuju dngn pak tif,shrusnya lbh banyak berita positif yg dimunculkan krena akan berpengaruh pda pola fikir masyarakat juga ikut positif,klo berita burk trus yng muncl dikhawatirkan akn berpengaruh buruk jg,bkan hnya dr dlm negri tp jga pndang
Balas   • Laporkan
wong cilik
19/03/2010
Sepakat pak.. kalau media tidak seperti itu nanti media tidak akan laku.. orang baik yang berbuat jahat dijadikan berita,tapi orang jahat yang berbuat jahat tidak diberitakan orang yang jahat berbuat baik dijadikan berita, tapi orang baik berbuat baik tid
Balas   • Laporkan
akang
19/03/2010
saya setuju banget tuh sama pendapat dan usul bung datuk. mohon TVOne dapat memperhatikan usulan tsb supaya bangsa kita ini hidup rukun, bersatu dan damai.
Balas   • Laporkan
agus
19/03/2010
Setuju dengan pernyataan mas Tifatul. Pers kita harus melihat sisi positif bangsa kita, keberhasilan anak bangsa dalam bidang pendidikan, riset dan teknologi, juga kemanusiaan. Jangan cuma memberitakan cerita politik sensational saja. Kami sudah lelah den
Balas   • Laporkan
ali Suryowidodo
19/03/2010
Media lebih senang dengan berita yang bs menghasilkan duit serta ada konflik kepentingan dari yang punya media. karena banyak pemilik media yang ternyata dari orang partai yang berkuasa. Jelas media sekarang tidak lagi dalam posisi netral dalam memuat seb
Balas   • Laporkan
adit
19/03/2010
Bad news is good news for media and good news is bad news for media.
Balas   • Laporkan
andrew
19/03/2010
parraahhh
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ