VIVAnews - Ketua DPP Golkar Priyo Budi Santoso menganggap pidato Presiden SBY kemarin malam sebagai hal yang wajar.
Menurutnya, bahasa yang digunakan SBY tidak mencerminkan kemarahan. Suara dan intonasi SBY saat menyampaikan pidato pun, kata Priyo, cukup datar.
"Sekedar [menunjukkan] kerisauan beliau kalau sampai ada pemberitaan yang tidak berimbang," ujar Priyo di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 28 Juli 2010.
Dia berpendapat, Presiden hanya berniat memberi tahu kepada masyarakat agar tidak lupa memberitakan nilai-nilai positif yang juga ada di kehidupan sehari-hari.
"Tapi saya tidak tahu apakah apakah pidato Presiden itu diarahkan bagi pihak tertentu atau media massa tertentu," kata Priyo.
Tadi malam, SBY menyebut dalam pidatonya bahwa ada gerakan politik yang sedang berkampanye untuk mendiskreditkan pemerintah, dengan mengesankan seolah-olah Indonesia akan hancur.
Namun juru bicara kepresidenan Julian Aldrian Pasha menyatakan bahwa ucapan SBY itu tidak ditujukan kepada salah satu tokoh politik di tanah air.
"Ada yang sedang keliling kampanye seolah-olah Indonesia akan hancur. Di mata mereka, seolah-olah Indonesia ini buruk sekali," demikian ujar SBY dalam pidatonya semalam.
Ucapan SBY tersebut lantas oleh sebagian kalangan dianggap ditujukan kepada organisasi massa berorientasi politik tertentu, yang akhir-akhir ini sibuk mendirikan sejumlah cabang dan membangun basis di daerah-daerah, serta lantang melontarkan kritik pedas kepada pemerintah.
Namun Priyo menilai, pidato SBY tidak ditujukan khusus kepada kelompok yang kritis terhadap pemerintah, meskipun menurutnya, berdasarkan prinsip keseimbangan, Presiden memang punya hak untuk menanggapi balik lontaran kritik yang diarahkan sejumlah pihak kepada pemerintahannya.