Politik

Gerakan Pindahkan Ibukota Marak di Facebook

Ada tujuh grup secara khusus mendesak Ibukota dipindahkan ke Kalimantan.

Kamis, 29 Juli 2010, 11:18 WIB
Arfi Bambani Amri
Monas (VIVAnews/Nurcholis Anhari Lubis)

VIVAnews - Aspirasi pemindahan Ibukota Indonesia juga berkembang di jaringan media sosial Facebook. Sampai Kamis ini, 29 Juli 2010, VIVAnews menemukan belasan grup dan halaman bertema pemindahan Ibukota dari Jakarta.

Salah satu yang terbesar adalah "Dukung Pemindahan Ibukota Indonesia" yang didirikan Sayed Machfud. Grup ini diikuti 12.096 anggota dan diurus oleh dua orang termasuk Sayed.

Di bagian profilnya ditulis: "Kota bisnis dan pusat pemerintahan seharusnya terpisah, memutus mata rantai korupsi. Kesejahteraan wajib disebar dan dirasakan oleh seluruh anak Bangsa dari Sabang hingga Merauke. Undang teman Anda bergabung, tunjukkan Anda peduli."

Sayed menulis Jakarta mengemban beban predikat yang terlampau banyak. Selain sebagai Ibu Kota negara, Jakarta juga menjadi pusat pemerintahan, bisnis, dan pendidikan. Kondisi inilah yang kemudian menciptakan arus urbanisasi ke Jakarta dan kemacetan di mana-mana. Persoalan ini bisa jadi merupakan akar dari permasalahan kriminal, korupsi, penindasan hak asasi manusia dan tidak meratanya pembangunan di seluruh wilayah di nusantara.

Di bagian diskusi grup ini, sudah terdapat belasan posting mengenai isu ini. Diskusi pun berjalan ramai, terbukti dengan banyaknya masukan dari anggota.

Kemudian ada tujuh grup mendukung pemindahan Ibukota ke Kalimantan. Salah satu yang menarik adalah "Dukung Ibukota Pindah dari Jakarta ke Kota Merdeka, Kalimantan Tengah" yang didirikan Adhi Wena Wirya Wiyudi.

Dalam sebuah posting di bagian diskusi, Adhi menulis Jakarta sangat tidak layak lagi menjadi Ibukota. Jakarta sudah kelebihan populasi, katanya.

"Saat ini jumlahnya sekitar 10 juta jiwa. Pada hari kerja dengan pekerja dari wilayah Jabotabek, penduduk Jakarta menjadi 12 juta jiwa. Jumlah penduduk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi diperkirakan sekitar 23 juta jiwa."

"Jika Jakarta terus dibiarkan jadi ibukota, maka jumlah ini akan terus membengkak dan membengkak. Akibatnya kemacetan semakin merajalela. Jumlah kendaraan bertambah. Asap kendaraan dan polusi meningkat sehingga udara Jakarta sudah tidak layak hirup lagi."

Adhi lalu melansir 10 macam dampak terhadap Jakarta. Beberapa di antaranya adalah kemacetan, pembangunan tidak merata, dan timbulnya kriminalitas yang tinggi.

Bagaimana menurut Anda? (kd)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
ahsan
04/08/2010
SAngat setuju sekali, selain karena beban jakarta sudah berat, Pemerataan pembangunan juga perlu dikedepankan...
Balas   • Laporkan
to2
02/08/2010
setuju..................100%. Saya sngat mendukung Kalteng jd ibukota negara yg selama ini tertinggal dr kota2 lain pdhal selama ini kekayaan bumi Kalteng dbwa keluar. smoga hal tsb dpt terealisasikan sgera. hidup bumi Tambun Bungai...God bless.
Balas   • Laporkan
Enggo Prasetyo
01/08/2010
Setuju banget, biar Jakarta gak meledak dalam hal jumlah penduduk, dalam hal jumlah kendaraaan bermotor, biar gak meledak jumlah polusi udara, biar kalo pejabanya korupsi langsung dikirm kehutan kalimantan biar ditelen idup2 sama ANACONDA
Balas   • Laporkan
jery
31/07/2010
setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu banyak pendatang ke jakarta susah diatur ditambah pemerintah ini kurang sehat para pejabatnya menangani masalah yang muncul,
Balas   • Laporkan
tri murtiyoso
31/07/2010
Ibu Kota biar tetap di Jakarta. Yg penting bagaimana membangun sikon Kinerja Pemerintahan berjalan baik, efektif n tdk Jakarta Sentris. Indonesia ini Sangat Luas. Jika pengelolaan selalu Jakarta Sentris; Pemerataan Pembangunan tdk akan merata. Serius
Balas   • Laporkan
joys steve'o
31/07/2010
sangat setuju dgn usulan ibukota pindah ke daerah lain. saya ingin sekali liat jakata yg lebih sepi n rapi
Balas   • Laporkan
beny
30/07/2010
sayang.. pemimpin-pemimpin sekarang tidak punya ide brilian untuk negara ini
Balas   • Laporkan
isya
30/07/2010
saya sangat setuju...
Balas   • Laporkan
teguh setio utomo
30/07/2010
Kalimantan atau borneo (hutannya) saat ini merupakan paru-paru dunia. Apa mau di babat juga...untuk pemukiman dan kantor?.
Balas   • Laporkan
ajibas
30/07/2010
Setuju bangaet....untuk pemerataan pembangunan ...alihkan ke Timur Indonesia...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ