Politik

Sultan: Atasi Macet Dulu, Baru Pindah Ibukota

"Dasarnya apa? Bagi saya argumentasi pindah itu berat."

Jum'at, 13 Agustus 2010, 10:14 WIB
Ismoko Widjaya, Syahrul Ansyari
Sri Sultan Hamengkubuwono X (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta supaya wacana memindahkan ibukota negara ditimbang masak-masak, karena merupakan persoalan yang pelik dan berat.

"Dasarnya apa? Apakah DKI itu akan jadi pusat bisnis, sehingga akan berpindah? Bagi saya argumentasi pindah itu berat," kata Sri Sultan usai acara penggalangan dana bagi artis Franky Sahilatua yang sedang sakit di Jakarta, semalam.

Menurut Sultan, ada satu catatan penting yang harus dilakukan Jakarta sebelum menanggalkan statusnya sebagai IbuKota Republik.

"Sebelum pindah, kemacetan harus diatasi dulu. Itu keputusan semua pihak, dari pemerintah sampai DPR," katanya.

Meski demikian, Sultan berpandangan bahwa semua provinsi harus selalu bersiap sedia mendapat mandat untuk menjadi ibukota negara. "Semua kota atau provinsi memiliki peluang yang sama. Pemerintah punya pertimbangan dari segi infrastruktur, keamanan atau ekonomi," ujar Sultan.

Ketika disinggung bahwa Bung Karno memilih Palangkaraya dan Soeharto lebih suka Jonggol, Sultan hanya menjawab diplomatis, "Beliau-beliau itu punya pilihan dan impian saat itu. Kondisi saat ini sudah berbeda."

Wacana pemindahan Ibukota bersumber dari masalah kemacetan dan kesemrawutan di Jakarta yang kian menjadi. Beberapa kota besar diusulkan menjadi kandidat, antara lain: Palangkaraya, Jonggol, hingga Karawang. (kd)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
prabuaji
04/03/2011
saya aja yang dari riau pilh kalimantan(Palangkaraya), tapi gitiw deh biayanya mahal kalau semua rakyat gak mendukung dan pengumpulan dana cadangan
Balas   • Laporkan
baduy gaul
06/09/2010
mendingan pindahnya ke provinsi banten aja deh, kyk'y strategis banget
Balas   • Laporkan
Raja jawa
06/09/2010
Sultan ini gimana toh... lha wong mau Ibu kota itu dipindah karena sudah tidak bisa diatasi lagi kemacetan ibu kota. Semua sudah numplek di Jakarta. Kalo Jakarta bisa nggak macet n sumpek ya buat apa dipindahin. Gitu lho sultan???????????. Pikir jogja wae
Balas   • Laporkan
Bima
20/08/2010
Pindah ke Bojonegoro aja..
Balas   • Laporkan
Salahuddin Johan
20/08/2010
pendapat sultan perlu jg jd bhan apresiasi,, jd utk kelanjutan dan pelaksanaannya,, perlu semua anak bangsa duduk satu meja tuk membahas apakah wacana itu memang urgen utk saat ini,, dan perlu jg dipikirkan masa kedepannya bgmna,, yuk kita sama2 bpkir,,ok
Balas   • Laporkan
ali
15/08/2010
hijrah ke arah yang lebih baik kenapa harus repot>>>hijrah aj lah untuk anak cucu kita agar hidupnya lebih nyaman dari pada kita>bner engg>>???
Balas   • Laporkan
wak yenk.
15/08/2010
sultan itu sirik aja kok dia takut klu jawa itu ngak top lg dia hanya mikirin jawa aja krna itu tanah leluhur nya alias tanah nenek moyang nya........kwkwkwkwkwk
Balas   • Laporkan
faris
15/08/2010
klo alasan jakarta sudah terlalu padat,lalu pindah ibukota, itu tdk bs jd alasan. lihat Tokyo, Jepang kepadatan hampir 2 kli Jakarta, lalu lintas bs tertata rapi. jd sy sepakat dg sulta, selasaikan dlu masalahnya br pindah.
Balas   • Laporkan
faris
15/08/2010
setuju dgn sultan. pindah ibukota dgn meninggalkan msalah, klo jad pindah nanti setelah beberapa thn,ibukota pindah lg dg alasan yg sama.
Balas   • Laporkan
bintang timur
15/08/2010
setuju pindah ibukota, ke kalimantan ato sulawesi sana berat apane to po sultan....dulu jmn perang kemerdekaan aja pindah2 ibukota gampang...gitu aja koq repot...
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ