Politik

Kinabalu Usai, Apakah Malaysia Berubah?

Pemerintah Indonesia dinilai masih terlalu lunak terhadap Malaysia.

Selasa, 7 September 2010, 14:28 WIB
Ismoko Widjaya, Mohammad Adam
Jumpa pers Menlu Indonesia dan Malaysia di Kota Kinabalu (ANTARA/ Adi Lazuardi)

VIVAnews - Hasil perundingan Indonesia-Malaysia di Kinabalu, Sabah, Malaysia dinilai terlalu diplomatis. Pemerintah Indonesia dinilai masih terlalu lunak.

"Perundingan itu masih diplomatis, itu terlalu soft untuk perspektif bangsa Indonesia," kata Wakil Ketua DPR Pramono Anung di Gedung DPR, Jakarta, Selasa 7 September 2010.

Salah satu alasan Pramono adalah pemerintah Indonesia 'gagal' membuat sikap Malaysia berubah. Jadi, bukan semata-mata perundingan, tapi apakah hasilnya itu bisa membawa perubahan sikap sudut pandang Malaysia terhadap Indonesia.

"Apakah akan ada perubahan, apakah akan ada perbaikan. Apakah Malaysia akan lebih menghargai Indonesia sebagai bangsa serumpun dalam kehidupan diplomatik yang equal, yang sejajar," tanya Pram.

Padahal Pramono mengharapkan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang juga diplomat memiliki gengsi dan wibawa. Marty diharapkan lebih punya sikap dalam mempertahankan kedaulatan. Sekalipun Indonesia memiliki persoalan dua juta Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia.

"Itu menunjukan tidak ada diplomasi yang menunjukkan bangsa ini mempunyai dignity, punya harga diri," kritik Pram.

Meski demikian, Pramono menegaskan seluruh TKI itu perlu mendapatkan perlindungan. "Nah, dalam keseimbangan itulah yang harus dilakukan Menlu Marty," tegas Pramono.

Bagi DPR, yang paling penting sebenarnya adalah bagaimana implementasi atas hasil perundigan itu ke depan. Bukan semata perudingan itu sendiri. (adi)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
ferdian_ciuz
17/09/2010
Mana bisa kita buktikan bw kita bangsa yg kuat, cm mslh gitu aja kita lgsg lembek.. Kalo mau perang aja sekalian, drpd harga diri BANGSA INDONESIA diinjak2...
Balas   • Laporkan
pikri
09/09/2010
Apa selamanya Republik Indonesia akan dipandang sebelah mata oleh Malaysia, maslahnya dari tahun ke tahun cuma itu-itu saja dan ujungnya selalu hinaan yang Indonesia dapatkan, Kasihan IndonesiaKU.......
Balas   • Laporkan
lanang
08/09/2010
malaysia tahu indonesia butuh ringgit dari hasil DEVISA TKI, dan emang kita butuh itu....jd ya... jadilah malaysia seprti MAJIKAN.
Balas   • Laporkan
Bonyok
08/09/2010
Berundingnya seperti ngapalin buku PPKN apa ya?
Balas   • Laporkan
mapsihotang
08/09/2010
sejak kapan pemerintah Indonesia tegas/keras kalau yang orang diwakilkan untuk diplomasi aja seperti wanita....jadi percuma kita memaksakan kalau kita itu tegas yang nyatanya tidak...
Balas   • Laporkan
ozil
08/09/2010
Saya kecewa dgn sikap lembek pemerintah trhdp Malaysial.. !! besok seragam Pemerintah di ganti DASTER aja .., Trus pakai Gincu .., Biar Memble skalian...!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Balas   • Laporkan
adjie
08/09/2010
repot...salahin diri sendiri dong kenapa milih orang orang yg sekarang pada jadi pecundang,,,yg mayoritas itu ,,orang apa..beragama apa,,,keliatan to yg pecundang itu siapa..
Balas   • Laporkan
ipoet siregar
08/09/2010
Tinggal tarik aja semua TKI dari sana gitu aja kok repot..? kaya ga bakal bisa ngidupin rakyat sendiri, dan boikot semua produk Malaysia ditambah jangan eksport batu bara kesana..ditanggung kacau balau perekonomiannya..,
Balas   • Laporkan
tony
08/09/2010
Disemua perundingan Indonesia selalu kalah, Diponegoro,Linggar Jati,Renville,sipadan ligitan gimana caranya menang ?kasus KMB diulur belandalebih dr 1 thn,angkatan perang dibangun,jalin kerjasama dengan rusia, baru dikasih Irian
Balas   • Laporkan
hidayat
07/09/2010
presidennya dr TNI kok loyo, jng fisiknya yg di gedein dong, trms
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ