Politik

Ahmadiyah: Tak Ada Kekerasan di Era Soeharto

"Biarkanlah kami bebas menganut agama yang kami yakini."

Kamis, 17 Februari 2011, 06:34 WIB
Elin Yunita Kristanti, Suryanta Bakti Susila, Fadila Fikriani Armadita
Rapat Komisi VIII DPR dengan pengurus Ahmadiyah (ANTARA/ Ujang Zaelani)

VIVAnews - Rapat dengar pendapat antara Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat dengan Ahmadiyah berlangsung hingga lewat tengah malam. Anggota Dewan mendengarkan paparan pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia soal tragedi Cikeusik versi mereka dan juga soal ajaran aliran itu.

Di penghujung rapat, Amir Nasional Jemaat Ahmadiyah, Abdul Basit, mengungkapkan harapan mereka. "Kami lahir di sini sebagai bangsa Indonesia. Kami minta hak konstitusional kami dijamin," kata dia di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis, 17 Februari 2011. "Oleh karena itu, biarkanlah kami bebas menganut agama yang kami yakini. Menjadi kewajiban pemerintah menjamin keselamatan kami."

Soal adanya perbedaan akidah, Abdul berpendapat jalan terbaik adalah  dialog, tidak hanya di pusat juga di daerah. "Kalau itupun tidak bisa menyelesaikan perbedaan, it's OK. Kita hidup masing-masing. Seperti Malaysia, misalnya, kami bebas melaksanakan ibadah di tempat kami. Begitu ada potensi kerusuhan polisi datang. Begitu pun di Singapura," katanya.

Sebelumnya, Abdul Basit mengatakan, kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah mulai marak sejak tahun 2005. Meski kerap terjadi perdebatan panas, tak tercatat ada kekerasan di tahun 1980-an, di masa pemerintahan Soeharto.

Sementara itu, Ketua Komisi VIII DPR RI Abdul Kadir Karding mengatakan dialog dengan Ahmadiyah hari ini bukan yang terakhir. "Bisa jadi ada sambungannya. Mungkin kita perlu ketemu lagi untuk berdialog lebih dalam," tambah dia.

Pertemuan Komisi VIII dengan Ahmadiyah dilatarbelakangi penyerangan brutal terhadap rumah jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten. Tiga warga Ahmadiyah tewas mengenaskan dalam insiden itu. (kd)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
anwar (cilacap)
01/03/2011
Dalam Alqur'anul Karim sudah dituliskan dan dijelaskan bahwa: "Nabi penutup itu adalah Muhammad SAW". Artinya, tidak akan ada nabi lagi setelah Beliau. Sudah salah masih dianut, bagaimana? Islam itu agama yang rasional dan mudah tapi jangan digampangkan.
Balas   • Laporkan
johndelwinto
18/02/2011
Dalam hal yang satu ini (melindungi minoritas), tindakan Soeharto patut ditiru.
Balas   • Laporkan
purbathe13
18/02/2011
Ciri2 akhir jaman...banyak bermunculan ajaran2 sesat, nabi2 palsu....jadi semua itu tidak bisa dicegah dan dihindari, karena itu sudah tertulis...kuatkan iman dan akhlak kita, itu yg akan menyelamatkan diri kita..
Balas   • Laporkan
Bukan ga ada, tapi ga ketahuan masyarakat alias tdk terpublikasi, ahmdiah dulu ga prnh terang2an jalanin aktivitasnya, mknya ga ada rame2... bisa aja tuh ahmdiah ngeles kaya bajaj !!
Balas   • Laporkan
mubarak
17/02/2011
solusi terbaik untuk ahmadiyah adalah, ahmadiyah di jadikan sebuah agama bukan sebuah aliran, jika ahmadiya masih tetap sebagai aliran dari agama islam maka kekerasan terhadap ahmadiyah akan terus berlanjut hingga kiamat..
Balas   • Laporkan
dulajis
17/02/2011
Saya usul untuk melakukan gugatan class action ke Mahkamah Konstitusi, agar masalah ini cepat clear. Anda semua di komunitas Ahmadiyah nggak usah resah dengan adanya kondisi semacam ini. Saya dan komunitas Aswaja ada di belakang anda. Salam Perjuangan.
Balas   • Laporkan
damai gan
Balas   • Laporkan
bushido
17/02/2011
hukuman orang murtad/mengaku nabi adalah MATI(halal darah mereka) dan hak membunuh itu ditangan ALLAH diwakilkan dimuka bumi oleh KHALIFAH bukan perorangan sayangnya kita tdk punya khalifah,dan tdk ada Qishas swasta..mari bersama2 tegakan darul islam
Balas   • Laporkan
petani_kutho | 17/02/2011 | Laporkan
berhubung ga punya KHALIFAH, makanya jangan asal bunuh orang.. sama saja melawan Allah..
kopyah | 17/02/2011 | Laporkan
lu tinggal di arab aj gan,, darus islam di negara asalnya aj terusir. gk usah kafir-mengkafirkan, lakum dinukum waliyadin
candrapacitano
17/02/2011
ini negara biadab. masa memeluk agama dan kepercayaan masing2 dilarang? bahkan atheis dan penyembah batu pun kalo masih ada juga harus dihormati. nggak ada yang boleh mengklaim paling benar.stop kekerasan sekarang juga!!!
Balas   • Laporkan
engkar | 18/02/2011 | Laporkan
perlu diingat rasulullah Nabi Besar Muhammad telah bersabda" bagimu agamamu dan bagiku agamaku..artinya islam tidak memaksakan kehendak beragama..kita ada kristen,budha,hindu,, bahkan konghucu..kenapa islam tidak mempermasalahkannya..karena mereka memilik
diaazz | 17/02/2011 | Laporkan
Maaf gan sebenernya ane juga ga setuju sama kekerasan tapi menurut pandangan ane sih perbedaan agama sama penistaan agama itu beda tafsirnya kalo ahmadiyah ini jelas penistaan agama dari islam moderat sampe yang paling ekstrim sepakat kalo ahmadiyah ini s
kopyah | 17/02/2011 | Laporkan
bener gan, negara gagal menjamin kebebasan beragama di masyarakat
armandab
17/02/2011
tdk ada kekerasan era soeharto????/ maksud loeee??????????
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ