Politik
Pansel KPK

Politisi Demokrat: Kasihan Johan Budi

"Dia kan hanya humas diminta menemani, tidak punya kewenangan. Kok terseret-seret."

Jum'at, 29 Juli 2011, 12:18 WIB
Arry Anggadha, Suryanta Bakti Susila
Deputi Penindakan KPK Ade Raharja dan Wakil Ketua KPK Chandra M Hamzah (Antara/ Prasetyo Utomo)

VIVAnews - Politikus Demokrat Edi Ramli Sitanggang menduga, gugurnya tiga pejabat KPK dari seleksi calon pimpinan KPK akibat dari "nyanyian" bekas bendaharanya, Muhammad Nazaruddin. Sebab, tiga calon itu termasuk daftar unggulan.

"Semoga bukan pembunuhan karakter," kata Edi Sitanggang ketika dihubungi, Jumat 29 Juli 2011.

Meski menduga ada kaitan, menurutnya itu bukan yang utama. Dia yakin, pansel KPK terdiri orang-orang independen dan berintegritas. "Berpengaruh iya, tapi tidak seratus persen," ujarnya.

Menurut Edi apakah ketiganya melanggar kode etik belum dipastikan. Sebab, komisi etik yang dibentuk KPK masih bekerja. "Sebaiknya menunggu keputusan tim etik itu," ujarnya.

Edi mempertanyakan, apakah setiap ada pertemuan pasti ada suap. Menurutnya, belum tentu ada suap atau deal dalam pertemuan itu. "Kalau ada, saya sangat menyesalkan. KPK kan lembaga yang saat ini satu-satunya paling menjadi harapan. Kalau misalnya benar begitu, lembaga apa lagi yang diharapkan," ujarnya. "Yang paling kasihan itu menurut saya Johan Budi. Dia kan hanya humas diminta menemani, tidak punya kewenangan. Kok terseret-seret."

Seperti diketahui, Pansel KPK tidak meloloskan Chandra M Hamzah, Ade Rahardja, dan Johan Budi SP. Mereka kandas dalam seleksi tahap penulisan makalah.

Anggota Panitia Seleksi Pimpinan KPK, Ichlasul Amal, membenarkan ada faktor Nazaruddin dalam kegagalan Chandra cs. “Secara tidak langsung, memang ada kaitannya dengan itu, karena sudah ada opini publik yang terbentuk,” kata Ichlasul kepada VIVAnews.com. (umi)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
jadul
30/07/2011
wahai umat manusia, janganlah saling mencaci sebelum ada bukti, hanyalah hati mereka dan Alloh yang tahu................................
Balas   • Laporkan
kenapa anas tidak segencar nazar untuk melakukan pembelaan ya ....
Balas   • Laporkan
julia_ondang
29/07/2011
yah udah jadi resiko menjadi bagian dari KPK...koruptor saat ini melakukan balasan untuk menkriminalisasi KPK. KPK maju terus....
Balas   • Laporkan
bahasyir | 29/07/2011 | Laporkan
tidak adanya gerakan cicak seperti dulu merupakan indikasi bahwa masyarakat sudah meragukan (oknum2) KPK dan mulai meyakini kebenaran nazar, apapun motifnya. Supaya bisa maju terus KPK harus menyingkirkan para cicak yang bermental badak, seperti CH..
gunsa
29/07/2011
Chandra cs. memang harus mundur, sudah dipertahankan dikasus anggoro tapi yang namanya bau busuk tercium juga. Maling teriak maling, seandainya Nazarudin tidak lari & bernyanyi, chandra cs & Anas cs. berpesta ria.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ