Politik
Calon Presiden 2009

Paguyuban Yogya Tak Rela Sultan Masuk Bursa

Penduduk sudah mengingatkan apakah keputusan Sultan itu pantas atau tidak.

Senin, 27 Oktober 2008, 08:47 WIB
Siswanto
Sri Sultan Hamengkubuwono X (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews – Bagi sebagian masyarakat yang menetap di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono X merupakan seorang raja (pandito ratu). Itulah sebabnya, mereka tak rela ketika Sri Sultan memutuskan maju dalam bursa calon presiden 2009.

Seorang pandito ratu, kata Ketua Paguyuban Kepala Desa dan Perangkat Desa Yogyakarta Mulyadi, mempunyai wibawa yang jauh melebihi wibawa yang dimiliki presiden. “Di dunia ini, hanya ada beberapa ratu,” kata Mulyadi kepada VIVAnews, Senin 27 Oktober 2008.

Ketika Sri Sultan bersedia menjadi presiden, bagi Mulyadi, itu berarti kemunduran kewibawaan bagi Sri Sultan sendiri. Sebab, menjadi presiden, berarti ia akan melayani orang se-nusantara. Menghadapi masyarakat yang memiliki berbagai kebudayaan dan motivasi masing-masing. Wibawa Sultan mundur karena akan banyak pihak yang melawan Sultan.

Mulyadi khawatir, di era  kebebasan berpendapat seperti sekarang ini, anggota masyarakat akan gampang menuduh, menghujat dan mencela Sri Sultan. Padahal, bagi masyarakat Yogyakarta, Sri Sultan merupakan pribadi yang disegani  dan dipatuhi. Bila nanti Sultan menjadi presiden dan ternyata banyak yang mendemo kebijakannya, kata Mulyadi, hal itu akan banyak menyakiti hati masyarakat Yogya.

Alasan sebagian anggota paguyuban di Yogyakarta tidak semangat menyambut rencana keikutsertaan Sri Sultan masuk ke pencalonan presiden, yakni Sri Sultan sudah berada ditangan partai politik. Mereka khawatir, ketika Sri Sultan sudah masuk ke politik, nanti akan terjebak hanya memperjuangkan kepentingan golongan itu dan semua hal yang dilakukan selalu memiliki motivasi politik.

“Mohon maaf, kalau Sultan sudah mau dicalonkan partai, sedikit pasti sudah berpijak ke golongan itu, partai itu,” ujarnya.

Selama ini, mayoritas paguyuban di Yogya selalu  mendukung Sri Sultan. Misalnya perjuangan mengawal pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Keistimewaan Yogyakarta. Paguyuban-paguyuban di Yogya rela datang ke Dewan Perwakilan Rakyat untuk ikut memberikan aspirasi, dengan biaya sendiri.

“Kami ngeman (menyayangkan) Sultan. Jangan nyalon. Itu prinsip kami. Bangun keistimewaan Yogya saja,” katanya.

Paguyuban-paguyuban mengharapkan Sri Sultan kembali menimbang-nimbang rencana maju menjadi calon presiden. Mulyadi mengatakan, mestinya, Sri Sultan berpikir panjang. Resiko menjadi presiden jauh lebih rumit dan besar. “Wong beliau itu ratu,” katanya.

Pada prinsipnya, Mulyadi mengatakan, mayoritas masyarakat Yogya menghendaki keistimewaan Yogya. Seandainya Sri Sultan tetap maju, Mulyadi tidak mengetahui lagi apakah masyarakat akan memutuskan pilihan golongan putih atau tidak. “Tapi kebanyakan, kami ngeman. Mesakne (kasihan).”

Paguyuban yang sudah menyatakan ngeman bila Sri Sultan maju, diantaranya Paguyuban Ngeman Sultan, Forum Masyarakat Yogya, Paguyuban Pedagang Pasar, Paguyuban Becak, Paguyuban Kaki Lima, Paguyubon Onggo Dento, Paguyuban Kelompok Ternak.

“Kami sebagai paguyuban sudah mengingatkan. Apakah keputusan Sultan ini pantas ini atau tidak, apa ini baik atau tidak untuk dilaksanakan. Tapi, ya, hak Sultan,” ujar Mulyadi.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ