Solusi PPP Berantas Terorisme Berbasis Agama
Bagaimana PPP melihat aksi terorisme? Apa yang seharusnya dilakukan memberantasnya?
Jum'at, 24 Juli 2009, 08:33 WIB
Arfi Bambani Amri
Aksi Damai Mengecam Terorisme Ritz Carlton dan Marriott (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Sebagai salah satu partai berasas Islam, Partai Persatuan Pembangunan merasa terpanggil untuk menjelaskan konsep jihad yang dipakai juga sebagai landasan bagi orang tertentu melakukan teror. PPP menawarkan solusi bagaimana mengatasi intrepretasi yang ekstrem atas konsep jihad itu.

"Jika kita mempercayai teori dialektika, terorisme adalah antitesa dari mainstream thesis (arus utama)," kata Wakil Sekretaris Jenderal PPP, Muhammad Romahurmuziy, dalam pernyataan tertulis ke VIVAnews, Jumat 24 Juli 2009. "Tesis atau arus utama yang saya maksud meliputi tesis pemahaman keagamaan, ideologi, kekuasaan negara dan wilayah, ataupun kepentingan ekonomi," katanya.

Karena itu, aksi terorisme terbagi atas empat macam antitesis: keagamaan, ideologi, kekuasaan negara/wilayah dan ekonomi. Terorisme terkait kepentingan ekonomi misalnya dilakukan penguasa kartel narkoba di Amerika Latin dalam operasi-operasi penyelundupannya. Terorisme yang terkait dengan penguasaan wilayah misalnya dilakukan oleh beberapa gerakan separatisme di Srilanka, Spanyol, Amerika Latin, Filipina, bahkan Indonesia. Terorisme yang terkait dengan ideologi misalnya dilakukan gerilyawan Maois di Tibet.

"Sedangkan terorisme yang berkaitan dengan pemahaman keagamaan dilakukan misalnya di Irlandia, Irak, Jepang, maupun Indonesia ditilik dari sasaran beberapa pengebomannya," ujar alumnus Institut Teknologi Bandung itu.

Bagaimana mengatasinya? Fokus ke Indonesia, di mana terorisme berbasis keagamaan, maka Romy melihat terorisme di kalangan para pelaku teror justru dimaknai sebagai perjuangan suci atau dalam terminologi Islam jihad fii sabilillah. Seluruh umat Islam meyakini kewajiban jihad fii sabilillah, namun yang berbeda adalah penerapannya.

"Jika kita baca doktrin pemahaman mereka, misalnya yang cukup lengkap buku otobiografi Imam Samudera, terungkap bahwa jihad dalam pemahaman kelompok ini adalah jihad ofensif, sementara dalam mainstream umat Islam di Indonesia jihad mestinya bersifat defensif," kata putra almarhum Prof Dr KH Moh Tolchah Mansoer, mantan Rais Syuriah Nahdlatul Ulama itu.

Pemhamanan kanan Imam Samudera dan kawan-kawan ini ditularkan secara gethok tular di forum-forum pengajian yang supereksklusif, mayoritas oleh para alumni mujahidin Afghanistan yang memang kebanyakan mengalami konfrontasi fisik dengan Uni Sovyet pada masa lalu, maupun belakangan dengan Amerika Serikat. Artinya terorisme itu lahir sebagai reaksi atas terjadinya ketidakadilan di dunia internasional, yang kemudian atas dasar pemahaman keagamaan, mereka nyatakan seluruh belahan bumi ini, tak terkecuali Indonesia.

"Untuk mengatasi ini, negara mesti memeloporinya dengan secara simultan melakukan tiga hal: pertama, menyaring dan memonitor secara ketat kegiatan lintas-negara yang dilakukan para pelajar kita di negara-negara yang selama ini ditengarai sebagai kamp-kamp pelatihan milisi," kata Romy.

Kedua, pemerintah sebagai negara berpenduduk mayoritas Islam terbesar di dunia, harus bereaksi secara proporsional terhadap setiap ketidakadilan yang terjadi di dunia Islam, baik melalui jalur diplomatik bilateral dan multilateral maupun jalur non-diplomatik. Ketiga, negara secara berkelanjutan mendorong terfasilitasinya forum-forum diseminasi pemahaman keagamaan moderat di pusat-pusat pendidikan keagamaan di Indonesia, dengan topik khusus yaitu membahas doktrin perjuangan suci ofensif dalam kacamata agama-agama di Indonesia.

Dengan tiga tindakan itu, "Insya Allah, jika ada kebersamaan dan kemitraan antara pemerintah, TNI/Polri dan seluruh komponen masyarakat sipil, apa yang kita istilahkan sebagai terorisme akan sirna di bumi Indonesia," katanya. Semoga.

Pernyataan PPP ini merujuk pada peristiwa 17 Juli 2009 lalu, saat dua bom bunuh diri mengguncang Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton secara terpisah. Dua pengebom tewas bersama tujuh korban lainnya. Puluhan orang luka-luka akibat pengeboman yang terjadi di Jumat pagi itu.

arfi.bambani@vivanews.com

• VIVAnews
 
komentar
senopati
24/07/2009
Sebenarnya mudah mengatasi terorisme, habisin saja sumber masalah yang menstimulasi radikalisme tersebut. Misal kalau terorisme karena ketidakadilan dunia (USA) atas ummat Islam maka habisin saja USA...he he he
santoso
24/07/2009
Yang namanya doktrin, harus ditanggulangi dengan doktrin. Dan yang bisa melakukan itu hanyalah tokoh agama (ulama). Yang jadi pertanyaan : bagaimana ulama bisa didengar umat kalau sibuk mencari jabatan & posisi dengan memihak salah satu capres..?? Ini yang harus dihentikan dulu, baru berikan doktrin.
Alex
25/07/2009
Mas senopati sy tidak setuju dengan usul kejam anda.Tindak USA memusuhi negara arab yang bermayoritas kaum muslim tidak berkait dengan niat memusuhi agama islam, tapi lebih ke politik dan haus akan kekuasaan AS. Mereka yang mengaku mujahid namun sebenarnya Mu "jahat" lah yang sering salah menginpretasikan.makanya jgn pernah memandang rendah umat lain dan merasa paling suci, kita ini diciptkan Tuhan itu sama. Yang diinginkan Tuhan hanya satu yaitu saling mengasihi. Bukan saling membunuh. Kita ini manusia bukan binatang yang bertindak tanpa hati dan akal.Salam
Kirim Komentar
Nama
Email
Komentar
Silahkan mengisi kode pengaman yang sesuai dengan gambar di atas.
Jika anda member Vivanews, silahkan login, atau Daftar ID anda.