Politik

Sosok Zaenal Ma'arif, Si Pemicu Gempa Politik

Gugatan Zaenal Ma'arif menimbulkan keributan politik.

Rabu, 29 Juli 2009, 11:25 WIB
Heri Susanto
Zaenal Ma'arif, caleg Partai Demokrat (facebook.com)

VIVAnews - Mahkamah Agung mengabulkan uji materiil calon legislator Partai atas Peraturan KPU Nomor 15 Tahun 2009. Putusan MA ini menimbulkan gempa politik karena kursi legislatif partai besar tiba-tiba melonjak, sedangkan kursi partai menengah dan kecil menyusut tajam. Keributan politik pun tak terelakkan.

Uji materiil atas Peraturan KPU itu diajukan oleh Zaenal Ma'arif, calon legislator Demokrat bersama tiga calon legislatif Demokrat lainnya, yakni  Yosef B Badoeda (Dapil NTT I), M Utomo A Karim (Dapil VII Jatim), dan Mirda Rasyid (Dapil I lampung).

Atas gugatan empat caleg Partai Demokrat itu, Mahkamah Agung membuat keputusan. Hasilnya, MA menilai Pasal 22 huruf c dan Pasal 23 ayat 1 dan 3 dalam Peraturan itu bertentangan dengan UU Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu.

MA kemudian meminta KPU membatalkan pasal-pasal tentang penetapan calon terpilih pada tahap kedua tersebut. KPU juga diharuskan merevisi Keputusan KPU tentang penetapan perolehan kursi.

Persoalannya, putusan MA itu berbuntut panjang. Konsekuensi dari putusan MA adalah calon yang sudah yakin terpilih, bakal gagal dilantik. Mereka kebanyakan dari partai menengah, seperti PPP, PAN, PKS, Gerindra dan Hanura.

Sebaliknya, banyak caleg yang tidak terpilih menjadi girang karena justru bakal lolos. Mereka berasal dari Partai Demokrat, Golkar dan PDIP.

Salah satu yang yakin bakal lolos adalah Zaenal, caleg yang mengajukan gugatan ke MA. "Ya, saya yakin terpilih," kata calon nomor urut 5 daerah pemilihan Jawa Tengah V itu kepada VIVAnews, pada 23 Juli 2009 lalu.

Pertanyaan pun mulai tertuju pada siapa Zaenal, sosok yang menjadi pemicu munculnya gempa politik akibat Keputusan MA tersebut?

Zaenal oleh sejumlah kalangan dikenal sebagai pengacara dan politikus kutu loncat. Pria ini lahir di Solo, Jawa Tengah pada 14 September 1955.

Dia mulai aktif di politik dari Solo saat menjadi Ketua Biro Hukum DPC PPP Solo pada 1990-an. Di partai Islam ini, karir alumnus UGM itu terus menanjak mulai dari sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Solo hingga hingga menjadi Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jawa Tengah. Namun, dia gagal menjadi anggota DPR pada pemilu 1999.

Saat PPP yang dipimpin Hamzah Haz pecah, Zaenal bersama sejumlah temannya merintis pembentukan Partai Bintang Reformasi yang dipimpin oleh Zainuddin MZ.

Di partai ini, Zaenal lolos sebagai anggota DPR pada Pemilu 2004 mewakili daerah pemilihan Sumatra Utara I. Dia menjadi Ketua Fraksi PBR yang meraih 14 kursi di parlemen.

Yang mengejutkan meski berasal dari partai kecil, Zaenal beruntung karena bisa menjadi wakil ketua DPR pada 2004. Saat itu dia masuk dalam gerbong paket Koalisi Kebangsaan untuk memimpin DPR bersama Agung Laksono dari Golkar, Soetarjo Soerjogoeritno dari PDIP, dan Muhaimin Iskandar dari PKB.

Namun, Zaenal kemudian mengundurkan diri sebagai Wakil Ketua DPR 2006. Itu terjadi setelah hasil Muktamar PBR di Bali memilih Bursah Zarnubi sebagai Ketua Umum PBR periode 2006 - 2011.

Lengser dari PBR, Zaenal loncat ke partai lain. Menjelang pemilu 2009, Zaenal masuk ke partai Demokrat. Kendati pernah berseteru hingga di pengadilan dengan Presiden SBY, Zaenal malah mengajukan diri sebagai caleg Partai Demokrat melalui daerah pemilihan Jawa Tengah V.

 



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Maman
04/08/2009
Pak zaenal ternyata politikus tanpa ideologi... Sayang sekali rakyat jika diwakili oleh bapak. Afwan.
Balas   • Laporkan
bantdell
03/08/2009
Sodara2, tau gak, bahwa perseteruan SBY dan Zaenal dulu soal kawin siri itu sudah disetting sedemikian rupa.. tujuan satu, untuk pencitraan SBY agar dia terkesan dizolimi.. dan kompensasinya, Zaenal ditampung di Demokrat Jateng dan ikut Pileg. Mengapa sek
Balas   • Laporkan
agung
02/08/2009
Yang Maha Penting adalah jabatan yang terhormat . . . . ngapain repot. Rakyat bingung dan susah itu kodratnya, iming-iming janji sekali dalam 5 tahun, beres urusan.
Balas   • Laporkan
surya
30/07/2009
Ternyata jd politikus itu banyak akalnya ya, sama seperti tikus ya selalu bisa menghindari segala jebakan.
Balas   • Laporkan
bagas
29/07/2009
MA jgn kau buat onar negeri ini dgn keputusan km,kalo sampai negeri ini chaos maka MA lah yg harus tanggung jawab!!!lebih baik ganti semua orang MA yg ZALIM itu, ALLAHUAKBAR!!!!
Balas   • Laporkan
adji gile
29/07/2009
Banyak Politikus Indonesia bagaikan kutu loncat demi mendapatkan kursi empuk dan penghasilan yang serba wah sedangkan untuk memperjuangkan aspirasi rakyat itu soal belakangan yang penting...... ha ha ha ha kata mbah surip
Balas   • Laporkan
Ryo Pasaribu
29/07/2009
Salam demoklrasi.........! Saya sebagai masyarakat biasa yang tidak terlalu paham dengan yang namanya politik, tetapi saya sangat tertarik dengan artikel ini.Dan saya tetap berharap untuk kedepan artikelnya akan lebih deteil lagi dan lebih mudah untuk di
Balas   • Laporkan
august
29/07/2009
org politikus Indonesia tdk punya malu..udah menfitnah SBY kawin sirih eh...malah pengin jadi legeslatifnya...kagak tau malu...kodok
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ